Kedudukan Hadist dalam Islam

Bissmillahirrohmaan irrohiim
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. QS. Al-Ahzab (33) ayat 21.

Untuk mengetahui kedudukan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dan Sunnah (hadits) nya dalam Islam, kita perlu melihat beberapa ayat Al-Qur’an terlebih dahulu. Dalam Al-Qur’an dapat kita jumpai bahwa Rosulalloh mempunyai tugas dan peran yang penting sebagai berikut :

1.      Menjelaskan Kitabulloh.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman : Artinya: “Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”, QS. An Nahl [16]: 44.

Diantara tugas Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam adalah menjelaskan baik dengan lisan ataupun perbuatan hal – hal yang masih global dan umum dalam Al-Qur’an. Tugas ini berdasarkan perintah dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Tentu saja penjelasan terhadap isi Al-Qur’an itu bukanlah sekedar ‘membaca Al-Qur’an’. Banyak ayat – ayat Al-Qur’an yang memerlukan penjelasan praktis. Dan itu sudah dilakukan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam. Karenanya Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tugas ini. Menolak penjelasan Rosululloh terhadap Al-Qur’an juga tidak mungkin, karena Al-Qur’an sendiri telah menegaskan demikian. Oleh karena itu, menolak penjelasan Rosululloh trehadap Al-Qur’an sama saja artinya dengan menolak Al-Qur’an. Dan menolak Al Qur’an sama saja menolak segala perkataan Alloh subhanahu wa ta’ ala.

2.      Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam Merupakan Teladan Baik Yang Wajib Dicontoh Oleh Setiap Muslim.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh”. QS. Al Ahzab [33]: 21

3.      Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam Terjaga dari Kesalahan Penyampaian Syari’at.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya :”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” . QS. An Najm [53]: 3-4

4.      Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam Wajib Di Ta’ati.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan janganlah kalian berpaling dari pada-Nya, sedang kalian mendengar (perintah-perintah- Nya)”. QS. Al Anfaal [8]: 20.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman : Artinya: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. QS. An Nisaa’ [4]: 80

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya: “Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya” . (QS. An Nisaa’ [4]: 69)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thoghut itu. dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” . (QS. An Nisaa’ [4]: 59-60)

Ayat-ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa Rosulalloh sholallohu ‘alaihi wasallam di utus hanyalah agar di patuhi perintah-perintahny a dengan izin Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan sekedar tabligh (menyampaikan) atau memberikan kepuasan. Manusia belum dapat dikatakan beriman apabila belum mau menerima system hukum Alloh subhanahu wa ta’ala yang telah dicontohkan oleh Rosululloh sewaktu beliau masih hidup dan sesudah beliau wafat. Menerima sistem dan hokum Alloh itu dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam sebagai sumber hukum dan sistem kehidupan.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tidak sekedar ‘penasihat’ yang saran-sarannya boleh diambil atau tidak. Sebab agama Islam merupakan pandangan hidup yang nyata dengan segala bentuk dan aturannya, baik yang berupa nilai-nilai, akhlak, adab, ibadah, dan lain-lain. Pemberlakuan hukum yang dilakukan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tidaklah semata-mata masalah pribadi, tetapi hal itu merupakan penerapan sistem dan hukum Alloh subhanahu wa ta’ala. Seandainya hal itu merupakan masalah pribadi, niscaya sepeninggal Rosul hukum Alloh subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya tidak mempunyai arti lagi. Abu Bakar rodhiallohu ‘anhu juga pernah memerangi orang-orang hanya karena mereka tidak mematuhi Alloh subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya sholallohu ‘alaihi wasallam dalam masalah zakat.

5.   Wajib di Jauhi Dan di Tinggalkan Hal Dilarang Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman : Artinya “Apa yang diberikan Rosul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya”. (QS. Al Hasyr [59]: 7)

Dari keterangan-keterang an dalam ayat-ayat diatas jelaslah bahwa memakai Al-Qur’an saja dan meninggalkan Sunnah adalah suatu yang tidak mungkin dan tidak dibenarkan. Untuk itu Imam Syafi’i menegaskan dengan menyatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang diwajibkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala berarti ia (harus) menerima Sunnah-Sunnah Rosul-Nya serta menerima hukum-hukumnya. Begitu pula orang yang menerimaa Sunnah Rosul, ia berarti (harus) menerima perintah-perintah Alloh subhanahu wa ta’ala. (lihat Asy-Syafi’i, Ar-Risalah: 33).

Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa ta’at kepada Rosululloh adalah suatu kewajiban, sebab ta’at kepada Alloh subhanahu wa ta’ala disyaratkan ta’at kepada Rosul-Nya. Dan setelah Rosul sholallohu ‘alaihi wasallam wafat keta’atan itu diwujudkan dala menerima dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Oleh karena itu ummat Islam sejak periode-periode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan memakai Sunnah-Sunnah Rosul. Sebagai perwujudannya, hukum-hukum yang mereka terapkan sejak zaman Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan itu. Contohnya adalah sebagai berikut:

Sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam pada Masa Abu Bakar rodhiallohu ‘anhu.

Qobisah bin Dzu’aib menuturkan bahwa ketika Abu Bakar didatangi seorang nenek yang menanyakan bagian warisnya, beliau menjawab: “dalam kitabulloh tidak terdapat bagian untukmu, dan sepengetahuan saya dalam Sunnah Rosul juga tidak ada. Silahkan kemari lagi esok lusa, saya akan menanyakan masalah itu dahulu kepada orang-orang” . Lalu beliau pun menanyakan hal itu kepada orang-orang. Diantara yang menjawabnya adalah Al-Mughiro bin Syu’bah, ia berkata: “Saya pernah menghadap Rosulalloh saw, beliau menetukan bagian seperenam untuk neneknya”. Abu Bakar lalu menanyainya: “Apakah ketika menghadap Rosululloh kamu bersama orang lain?”. Maka Muhammad bin Maslamah Al-Anshori bangkit dari duduknya dan berkata seperti yang dikatakan Al-Mughiroh. Akhirnya Abu Bakar menetapkan bagian seperenam untuk nenek tersebut. (lihat Al-Muwatto’, Imam Malik).

Kata-kata Abu Bakar: “… dan sepengetahuan saya dalam Sunnah Rosul juga tidak ada”. Dan kemudian beliau menetapkan bagian seperenam untuk nenek setelah mengetahui hal itu dari Al-Mughiroh dan Muhammad, cukup menjadi bukti bahwa beliau telah memberlakukan sunnah sebagai dalil dan hujjah.

Sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam Pada Masa Umar bin Khoththob

Beberapa hari sebelum Umar wafat, ia berpidato mengatakan: “Wahai Alloh saya bersaksi kepada-Mu atas penguasa-penguasa di daerah, bahwa saya mengangkat mereka agar mereka mengajarkan agama Islam dan Sunnah Nabi kepada para penduduk, dan agar mereka membagi-bagikan rampasan perang dengan adil. Apabila ada yang mendapatkan problem hendaknya ia melaporkan kepada saya…?” (lihat Sunnah Ad-Darimi: 72).

Umar juga dikenal sebagai kholifah yang aktif mengontrol bawahannnya. Salah satu suratnya yang dikirimkan kepada Qodhi (hakim) Syuroih juga sangat kesohor. Surat itu berisi keterangan tentang hujiyah Sunnah (sunnah dapat dijadikan sebagai dalil atau rujukan) untuk memutuskan perselisihan antar manusia.

Surat Umar bin Khoththob kepada Qodhi Syauroih di Kuffah.

An-Nasai menuturkan, bahwa Syuroih menulis surat kepada Umar menanyakan suatu masalah. Maka Umar menjawab lewat surat sebagai berikut: “Putuskanlah masalah itu dengan Kitabulloh, bila hal itu tidak terdapat dalam Kitabulloh maka putuskanlah memakai Sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, apabila hal itu juga tidak terdapat dalam Sunnah Rosul juga, maka putuskanlah dengan keputusan yang telah dipakai orang-orang sholeh dahulu. Apabila juga masih belum ditemukan masalah itu dalam tiga jenis rujukan tadi, maka terserahlah kepada kamu, apakah kamu ingin segera memutuskan hal itu dengan ijtihadmu atau kamu mau menangguhkan. Dan saya rasa lebih baik kamu menangguhkan. Wassalamu ‘alaikum”. (lihat Sunnah An-Nasai: 8/ 204)

Umar juga sering mengubah pendiriannya setelah mengetahui Sunnah Rosul. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari Sa’id bin Musayyib, ia berkata: “Umar bin Khoththob pernah mengatakan Diyat (ganti rugi masalah kriminal) itu untuk ahli waris yang berhak bagian sisa, dan isteri tidak dapat menerima diyat suaminya”. Setelah diberitahu oleh Ad-Dohak bin Sufyan bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam pernah mengirimkan surat kepadanya agar istri Asy’yama Ad-dahabi diberi bagian diyat suaminya. Umar pun mencabut pendapatnya. (lihat Ar-Risalah: 426-427)

Sufyan bin Amr juga menuturkan bahwa ia mendengar Bijalah mengatakan: “semula Umar tidak mau memungut jizyah (pungutan dari non muslim). Namun setelah diberitahu oleh Abdur Rohman bin Auf bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam memungut hal itu dari majusi hajar, ia pun melakukannya. (Ar-Risalah: 430-431)

Sumber : http://nurulilmi. com/maudhui/ hadis/51- hadis/345- kedudukan- hadits-dalam- islam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: